Sabtu, 28 Agustus 2010

Disfungsi Ereksi

Disfungsi Ereksi
     
Disfungsi ereksi merupakan masalah seksual yang sangat mengganggu, tidak hanya bagi pria yang mengalaminya, tetapi juga bagi wanita pasangannya. Diduga sekitar 10 – 15 persen pria Indonesia yang sudah menikah mengalami gangguan seksual ini. Menyembunyikan atau membiarkan gangguan ini adalah suatu kekeliruan, karena dapat mengoyak kebahagiaan perkawinan.

Apa yang dimaksud dengan disfungsi ereksi ?
     
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan senggama yang memuaskan. Masyarakat sering memberikan sebutan impotensi pada kasus disfungsi ereksi.

Kapan seorang pria disebut mengalami disfungsi ereksi ?
     
Disfungsi ereksi dibagi dua, yaitu disfungsi ereksi primer dan disfungsi ereksi sekunder.
Disfungsi ereksi primer terjadi sejak awal, yang berarti sejak awal penderita tidak mampu mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang cukup sehingga tidak mampu melakukan senggama dengan baik.
Penderita disfungsi ereksi sekunder, pada awalnya dapat mencapai ereksi penis yang cukup dan dapat melakukan senggama dengan baik. Tapi karena sesuatu kemudian terjadi gangguan sehingga tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan senggama.

Apa penyebab disfungsi ereksi ?
     
Disfungsi ereksi dapat disebabkan oleh faktor psikis atau fisik. Disfungsi ereksi karena faktor psikis disebut disfungsi ereksi psikogenik. Faktor psikis yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan yaitu periode anak -anak, remaja dan dewasa.
Faktor-faktor penyebab disfungsi ereksi dapat dikelompokkan manjadi :

  1. Faktor perkembangan, misalnya : dominasi orang tua, konflik orang tua – anak, trauma masa kecil, dan pengalaman seksual pertama kali.
  2. Faktor afektif, misalnya : kecemasan, rasa bersalah, takut hamil.
  3. Faktor antar personal, misalnya : komunikasi tidak baik, kejenuhan, hilangnya daya tarik fisik.
  4. Faktor kognitif, misalnya : informasi yang salah (mitos).
  5. Faktor lain – lain, misalnya : ejakulasi dini, dan penyimpangan seksual (deviasi seksual).
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi dapat dikelompokkan menjadi gangguan anatomik, gangguan jantung dan sistem pernafasan, gangguan ginjal, gangguan hormon, gangguan saraf, gangguan pembuluh darah, dan gangguan darah. 

Prevalensi disfungsi ereksi pada pria dengan berbagai penyakit kronis dan kebiasaan tertentu, Prevalensi DE :

  1. Penyakit jantung koroner 75 %
  2. Diabetes mellitus 64 %
  3. Hipertensi 52 %
  4. Merokok 43 %
  5. Selain itu, pria dengan kadar serum kolesterol total yang meningkat (>240 mg/dl) mempunyai peningkatan resiko terjadinya DE hingga 80 % dibandingkan dengan pria dengan kadar kolesterol total < 180 mg/dl.

Bagaimana cara mengetahui adanya disfungsi ereksi ?
     
Cara sederhana adalah merasakan sendiri ketidak-mampuan mencapai atau mempertahan ereksi yang cukup untuk melakukan senggama dengan baik.
Untuk lebih meyakinkan, diperlukan evaluasi dengan cara menjawab sejumlah pertanyaan sebagai alat uji sederhana, kemudian beri nilai. Dari nilai yang didapat melalui jawaban atas pertanyaan itu dapat disimpulkan ada tidaknya disfungsi ereksi. Tetapi untuk memastikan apakah penyebabnya faktor psikis ataukah fisik, diperlukan pemeriksaan dengan alat bantu dan didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

IIEF (International Index of Erectile Function) :

  1. Seberapa sering anda dapat mencapai ereksi selama melakukan aktivitas ?
  2. Ketika anda mengalami ereksi setelah menerima rangsangan seksual, seberapa sering penis anda cukup keras untuk masuk ke dalam vagina pasangan anda ?
  3. Selama melakukan hubungan seks, seberapa sering anda dapat mempertahankan ereksi setelah penis anda masuk ke dalam vagina pasangan anda ?
  4. Selama melakukan hubungan seks, seberapa sulit anda dapat mempertahankan ereksi sampai menyelesaikan hubungan seks ?
  5. Ketika anda melakukan hubungan seks, seberapa sering anda merasa puas ?

1 = tidak pernah, 2 = sesekali, 3= sedang, 4 = sering, 5 = selalu

Kriteria penilaian :
Skor :
21 – 25 Fungsi ereksi normal
16 – 20 Disfungsi ereksi ringan
11 – 15 Disfungsi ereksi sedang
5 – 10 Disfungsi ereksi berat

Apa akibat disfungsi ereksi ?
     
Disfungsi ereksi menyebabkan senggama tidak dapat berlangsung dengan baik, atau bahkan tidak dapat berlangsung sama sekali. Akibatnya penderita merasa sangat kecewa karena keinginannya untuk melakukan senggama tidak terpenuhi. Di pihak lain sang istri juga merasa kecewa bahkan menderita. Lebih jauh, dapat terjadi ketegangan dalam perkawinan, bahkan dapat terjadi penyelewengan seksual, atau perkawinan itu berakhir dengan perceraian. Karena itu disfungsi ereksi harus diatasi, jangan dibiarkan begitu saja.

Apakah disfungsi ereksi dapat diatasi ?
     
Disfungsi ereksi dapat diatasi. Untuk mengatasinya, lebih dulu diperlukan pemeriksaan agar penyebabnya dapat diketahui. Tanpa pemeriksaan, usaha mengatasi disfungsi ereksi tidak efektif, bahkan sangat mengandung resiko.

Bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi disfungsi ereksi ?
      Beberapa hal perlu diperhatikan untuk mencegah disfungsi ereksi :

  1. Pelihara kesehatan tubuh dan jiwa secara umum.
  2. Jangan menggunakan obat, ramuan, atau bahan kimia tanpa indikasi yang jelas & tanpa petunjuk tenaga ahli.
  3. Binalah komunikasi yang baik dengan pasangan, termasuk komunikasi seksual.
  4. Binalah agar kehidupan seksual dengan pasangan berlangsung harmonis.
  5. Usahakan agar senggama tidak merupakan sesuatu kegiatan monoton yang menjemukan.
  6. Segeralah berkonsultasi dengan tenaga ahli bila mengalami masalah seksual.

Infertilitas Pria

Infertilitas


Keadaan di mana tidak terjadi kehamilan setidaknya 12 bulan setelah senggama tanpa kontrasepsi. Infertilitas merupakan masalah pasangan suami istri (pasutri) yang dihadapkan kepada kesukaran untuk punya anak.  Sekitar 10-12 % pasutri mengalami infertilitas. Faktor wanita berkisar sekitar 41 %, pria menyebabkan sekitar 24 %, kedua pihak sekitar 24 %, sedangkan 11 % sisanya tidak dapat ditunjukkan penyebabnya secara pasti.

Penyebab infertilitas pria :

  • Produksi sperma yang tidak normal (sekitar 60 %), yang dapat disebabkan karena kelainan genital, infeksi gondongan, faktor genetik, penyakit sistemik, varikokel, temperatur, antibodi sperma, obat-obatan, bahan toksik, radiasi, dll.
  • Adanya hambatan pada saluran sperma, sperma yang telah diproduksi testis harus melewati epididymis dan vas deferens sebelum diejakulasikan. Bila terjadi sumbatan konsentrasi sperma dapat menjadi nol (azoospermia).
  • Disfungsi seksual (sekitar 5 %), terjadi disfungsi ereksi dan ejakulasi yang disebabkan karena cidera sumsum tulang belakang, diabetes, pasca operasi daerah pelvis, penggunaan obat anti depresan dan obat anti hipertensi.
  • Gangguan hormonal

Alur pemeriksaan :

Dokter memerlukan informasi dari pasutri , mengenai :
  • Riwayat suami dan istri
  • Riwayat hubungan seksual pasutri
  • Riwayat kesehatan, mencakup penyakit atau tindakan operasi yang pernah dilakukan.
Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan fisik yang dilanjutkan dengan pemeriksaan analisis semen untuk menunjang kemudahan diagnosis dan penunjang lainnya bila diperlukan, seperti : hormonal, genetik, darah, urine atau juga analisis semen yang lebih khusus, misalnya : kultur semen, tes antibodi sperma, biokimia semen (fruktosa, alfaglukosidase).

Terapi infertilitas pria secara garis besar ada 2, yaitu konvensional dan teknologi reproduksi berbantu.

Pencegahan infertilitas pria yg dapat dilakukan :

  • Berhenti merokok
  • Mengurangi konsumsi alkohol
  • Mengunakan celana dalam yang longgar, mudah menyerap keringat dan tidak ‘double’
  • Berhubungan seks yang aman

Informasi yang perlu anda ketahui mengenai pemeriksaan sperma :

  • Abstinentia seksual (tidak ejakulasi dengan cara apapun) selama 3-4 hari (rekomendasi WHO abstinentia 2 sampai 7 hari)
  • Keadaan pria hari pemeriksaan hendaknya cukup sehat, tidak dalam keadaan letih atau lapar dan cukup beristirahat
  • Cara pengeluaran semen terbaik dengan masturbasi di laboratorium, dan harus ditampung secara utuh.
  • Sebelum usaha pengeluaran semen dianjurkan untuk membersihan alat genitalia dengan air bersih dan sabun.
  • Dalam keadaan dimana pria tidak dapat mengeluarkan sperma di laboratorium, maka boleh yang bersangkutan mengeluarkan di tempat lain, misalnya di rumah dengan memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Masturbasi tidak diperkenankan memakai bahan pelicin seperti sabun, minyak dan lain-lainnya.
  2. Wadah penampung harus terbuat dari gelas yang sudah dicuci bersih dan dibilas berulang-ulang untuk menghilangkan sisa sabun / ditergen yang di pakai. Botol sebaiknya bermulut lebar, mempunyai volume 20-50 ml.
  3. Sperma yang sudah tertampung segera dalam waktu setengah jam sudah di serahkan kepada petugas laboratorium. Dalam perjalanan menuju laboratorium suhu sperma dipertahankan sekitar 25-35 derajat celsius, misalnya dalam kantong pakaian yang dikenakan.



Andrology

ANDROLOGI  merupakan bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari fungsi “Reproduksi Pria” meliputi aspek fisiologi dan patologi serta penatalaksanaan berkaitan dengan kesuburan pria yang mencakup : fungsi organ seks pria.
 

Menurut WHO (1997), bidang Andrologi meliputi :
  • Infertilitas
  • Disfungsi seksual
  • Hipogonadotropik Hipogonadisme
  • Pria usia lanjut
  • KB Pria